DUA SISI MATA KOIN

Karya : Andi Palifuri

    Duduk aku termenung di meja bagian luar salah satu restoran cepat saji sembari menunggu makanan yang telah kupesan datang. Dalam keheningan tersebut aku mulai berucap “Tidak adil!!!”, ya... mungkin 2 kata itu merupakan hal yang cocok untuk menggambarkan hal yang terjadi padaku belakangan ini. Seluruh hal di dunia ini rasanya tidak pernah adil bagiku. Mulai dari keuangan hingga kehidupan asmara, semuanya tidak pernah berjalan sesuai dengan yang aku inginkan, apakah sesulit itu bagiku untuk bahagia?.   

    Saking dalamnya aku merenung sampai tak sadar kalau sudah ada seorang Ibu dan anak kecil yang duduk di meja yang berada di seberang mejaku. Tangisan dari sang anaklah yang mulai membuyarkan lamunanku dan mulai melihat bahwa meja di seberang telah ada yang mengisi. Beberapa waktu kemudian makan yang telah kupesan akhirnya tiba, mulailah kulahap makanan cepat saji tersebut sembari terus memperhatikan anak kecil yang tangisannya tambah menjadi jadi karena tidak mau memakan makanan yang kini tengah di suapkan oleh Ibunya. Berulang kali si Anak menangis dan menolak sambil menggelengkan kepalanya guna menghindari makanan yang disuapkan oleh sang Ibu. “Gak mau!! Adek ngak mau makan!!”, kurang lebih seperti itulah kalimat yang keluar dari mulut si Anak. “Adek makan ya.. kalau ngak mau makan nanti makanannya dimakan sama Om yang didepan Loh” kata sang Ibu sembari mengarahkan pandangannya kearahku untuk meminta bantuan. Kukedipkan mataku beberapa kali “Om?.. maksudnya aku? apa aku memang keliatan setua itu?” kataku dalam hati namun segara kutepiskan dan mulai mamainkan peran untuk menolong si Ibu memberi makan anaknya yang tengah rewel. “Hua hahahaha Ya... kalau kamu ngak mau makan nanti Om yang makan semua makanan kamu”, ucapku sembari mencoba menirukan suara raksasa lapar. Namun sepertinya aktingku tidak berhasil. Si anak masih saja terus menangis dan menolak makan makanan yang meurutku terlihat enak tersebut. Bahkan sesekali si anak menepis tangan sang Ibu yang membuat makanan tadi tumpah berceceran di atas meja.

Tak lama berselang datang seorang anak ke area parkir restoran cepat saji tersebut. Penampilannya terlihat lusuh sembari membawa karung besar di punggungnya yang besarnya melebihi tubuh anak tersebut dan kemungkinan berisi pelastik dan botol botol bekas hasil dia memulung. Bulir-bulir peluh terlihat di sudut dahinya menandakan kelelahan bagi tubuhnya yang kecil yang jika kuperhatikan usianya tak jauh dari usia bocah yang menagis tadi.

Berjalan kulihat sianak pemulung mendekat kearah tempat sampah guna mencari plastik bekas yang telah dibuang dan kiranya bisa menjadi pundi pundi rupiah bagi sianak pemulung. Dikorek koreknya tempat sampah beberapa saat hingga tangan kecilnya mendapat sebuah box karton berisi beberapa potong ayam goreng yang telah dibuang karena tidak dihabiskan oleh orang yang memesannya. Diraihnya potongan ayam goreng tersebut dengan tangan kecilnya kemudian diendusnya untuk mengecek apakah ayam tersebut masih bisa dimakan. Dirasa kalau ayam tersebut masihlah dalam kondisi baik dan bisa dimakan, si anak pemulung mulai menyantap ayam tersebut dengan lahap. Senyum bahagia tercurah dari wajahnya tatkala rasa dari ayam goreng tersebut menyentuh mulutnya. “Wah enak sekali, kok bisa makanan seenak ini ada di tempat pembuangan sampah ya? apa orang-orang sudah bosan dengan makanan enak jadi makanan seenak ini ngak dihabiskan dan malah dibuang? aneh, tapi gak Alhamdulillah masih ada yang utuh dan bisa dimakan ayam gorengnya” kata si anak pemulung tersenyum dengan polosnya sambil kembali menyantap ayam tersebut dengan gembira.

Aku yang menyaksikan hal tersebut menjadi terenyuh, disatu sisi ada seorang anak yang menangis karena tidak mau memakan atau menghabiskan makanan yang ada didepannya bahkan sampai menumpahkan makanan itu kemana-mana, tak jauh dari situ pada sisi lainnya terdapat seorang anak lagi yang dengan bahagia memakan makanan yang notabenenya sudah dibuang dan merasa bersyukur akan apa yang telah dia dapat. Dua hal yang bertolak belakang, seperti dua sisi mata koin.

Dari situ kusadari bahwa aku harusnya lebih bersyukur akan kondisiku saat ini dan bukannya malah tidak bahagia dan mempertanyakan apa yang telah tuhan berikan kepadaku. aku terlalu fous kepada permasalahan yang ku alami sehingga menghiraukan akan nikmat yang telah tuhan berikan kepadaku sehingga aku merasa kalau dunia ini tidak adail bagiku.

Setelah menghabiskan makanan ku, aku kemudian berdiri dan bersiap untuk pergi. Tidak lupa kupesankan sepaket makanan untuk si anak pemulung tadi sebelum aku meninggalkan restoran cepat saji itu. Kedua anak kecil tadi memberikanku sebuah pelajaran berarti dalam menyikapi suatu perkara dengan lebih baik.

 
Terkadang Tuhan menguji hambanya dengan memberikan cobaan untuk mengetahui seberapa tegar hambanya dalam menghadapi cobaan, jika hanya diberikan sedikit cobaan dan manusia tersebut sudah menyerah dan tidak mau berusaha lagi, maka yang salah bukan dunia ini ataupun tuhan. Ingatlah Tuhan tidak pernah menguji Hambanya diluar dari kemampuan hamba tersebut. jadi teruslah berusaha dan jangan menyerah karena kita tidak tau rencana seperti apa yang Tuhan miliki untuk kita kedepannya. Jika kita menyerah ditengah jalan dan berhenti berusaha maka bisa saja berkah atau nikmat yang seharusnya akan kita dapatkan malah hilang dan tertahan”.

 

Komentar

Postingan Populer